Showing posts with label budaya. Show all posts
Showing posts with label budaya. Show all posts

Friday, April 19, 2013

Hubungan Badan Teraneh Aneh di Dunia

MutiaraIndonesia.com - Berikut ada beberapa hubungan Badan teraneh yang mencengangkan yang ada didunia ini, simak ulasannya dibawah ini

Carl Tanzler

Hubungan : Manusia dan Mayat
Carl Tanzler (8 Februari 1877 - 23 Juli 1952) adalah seorang kelahiran Jerman, hubungan ini bukan merupakan hubungan seksual, tetapi hubungan cinta carl terhadap mayat, banyak sekali mayat-mayat dicurinya dipemakaman hanya untuk menemaninya berbicara dan minum kopi bersama.

Kejadian yang sangat unik ketika pada tahun 1931 ketika Ibunya tewas, dia mencuri mayat ibunya, dan dibaringkan di tempat tidurnya untuk diajak berbicara, lalu rambut dari ibunya itu dijadikan wig. Carl pun tertangkap pada bulan November 1940 karena polisi menemukannya sedang tidur dengan mayat kakaknya di sebuah kamar, tetapi setelah melewati pemeriksaan, Carl ternyata tidak bersalah

Dauveed

Hubungan : Manusia dan Mannequin
Juni 2009, Dauveed mengadakan upacara yang aneh, yaitu menikahi sebuah mannequin (boneka toko) bernama Clara.












Lot’s Daughters

Hubungan : Ayah dan kedua anaknya
Banyak sekali sebenarnya hubungan sedarah antara anak dan ayah, tapi yang ini lebih menyeramkan karena si bapak melakukannya dengan 2 orang putrinya dan konon hubungan incest antara Lot dan anaknya ini adalah yang pertama kali di dunia.






Munda Dhanda Villager

Hubungan : Gadis cilik dan anjing
Jharkand, India timur tempat dimana terdapat pernikahan antara anjing dan seorang gadis kecil untuk mengusir roh jahat, tetapi sang gadis dapat menikah lagi dengan manusia di lain waktu tanpa adanya perceraian dengan anjing tersebut.





Nejdet Boyanay

Hubungan : Manusia dan Alien
Pria asal Istanbul Turki ini mengaku pada tahun 1975 ketika sedang tidur dia dikunjungi oleh mahluk asing, dan kemudian mereka melakukan hubungan seksual dan di keesokan malamnya mereka melakukan pernikahan. Foto di atas adalah gambar di sebuah surat kabar, dan mahluk asing di foto itu menurutnya adalah mahluk tersebut.



Caligula

Hubungan : Manusia dan kuda
Hubungan ini bukan hanya sebatas seksualitas semata, tetapi sang kuda sungguh sudah dianggap istrinya dan merupakan permaisuri di kerajaannya. Tidak akan pernah terjadi acara seperti makan malam tanpa sang kuda menghadirinya.






John Deaves

Hubungan : Ayah dan Anak
Hubungan incest tanpa adanya pemaksaan, Jenny mengunjungi ayahnya pada umur 31 tahun, yang telah berpisah dengan ibunya 30 tahun sebelumnya. Dari hubungan ini lahir seorang perempuan bernama Celeste, yang menjadi anak ke-3 dari John, sekaligus adik dari Jenny.



Selvakumar

Hubungan : Manusia dan anjing
Sebenarnya Selvakumar, begitu nama pria itu. Menikahi anjing bukanlah kehendaknya. Ia terpaksa menikahi “pujaannya” ini. Beberapa waktu sebelumnya, ia telah menyiksa dua ekor anjing hingga mati. Setelah itu, ia menderita lumpuh kaki dan tangan.

Berbagai ahli kedokteran sudah didatanginya. Tapi, hasilnya nihil. Hingga ia pun ketemu dengan paranormal. Menurut paranormal, ia terkena kutukan dari anjing yang disiksanya. Oleh karena itulah, jalan satu-satunya untuk mengobati sakitnya adalah dengan menikahi seekor anjing. Akhirnya, mau tak mau Selvakumar pun menikahi anjing.


Kenneth Pinyan

Hubungan : Manusia dan kuda
Kenneth Pinyan (22 Juni 1960 - 2 Juli 2005) a.k.a Mr. Hands yang tewas secara fenomenal akibat kegilaannya menikmati seks dengan kuda!







Eija-Riitta Berliner-Mauer

Hubungan : Manusia dan Tembok/Dinding
Wanita yang mencintai Tembok Berlin berawal dari umur 7 tahun dia sangat tertarik dengan struktur Tembok Berlin tersebut. Pada tahun 1961 dimana semua warga bersuka cita ketika tembok buatan Soviet itu runtuh, wanita ini malah hampir ingin bunuh diri. Setelah melewati pengobatan selama 1 tahun, akhirnya dia dapat melupakan Tembok Berlin itu dan akhirnya dia menemukan kembali idaman hatinya, yaitu sebuah dinding taman di dekat rumahnya.




Baca Selengkapnya - Hubungan Badan Teraneh Aneh di Dunia

Tradisi Unik Mencari Jodoh di Dunia

MutiaraIndonesia.com - Banyak tradisi dalam dunia cinta dan Jodoh salah satunya yang terkanal adalah tradisi Valentine yang diperingati setiap tanggal 14 Februari. Namun selain valentine ternyata masih ada beberapa tradisi unik dalam mencari jodoh yang ada di dunia ini nah kamu mau tahu tradisi unik seperti apa dalam mencari jodoh yang ada di berbagai negara di dunia simak Tradisi Unik Mencari Jodoh di Dunia berikut ini. 


1. Memakan apel dari ketiak 

Memakan apel dari ketiak merupakan tradisi di negara Austria dalam mencari jodoh caranya adalah dengan memberikan apel yang telah dibelah lalu apel yang akan diberikan ke pria tadi harus dikepit di ketiak wanita yang melakukan beberapa tarian ritual sampai berkeringan nah apel yang sudah basah dengan keringat tadi baru lah diberikan ke pria yang mau dijodhkan dengan pria jika pria itu mau memakan apel tadi berati pria tadi menerima perjodohan unikya.


2. Pondok cinta

Pondok cinta merupakan tradisi mencari Jodoh di negara Kamboja orang tua yang memiliki putri yang sudah remaja akan membuatkan sebuah rumah kecil yang disebut sebagai pondok cinta di dalam pondok ini pria belum menikah saiapa saja boleh bercinta dengan gadis yang ada didalam pondok cinta terkadang dalam satu malam bisa ada lebih dari 3 orang yang berhubungan seks dengan wanita yang ada di dalam pondok itu nah jika sang wanita menyukai salah seorang dari pria yang datang ke pondok itu maka mereka berdua akan menikah.


3. Kikir gigi

Tradisi kikir gigi ini ada di Bali setiap remaja yang akan dewasa diwajibkan melakukan ritual ini gigi mereka harus dikikir oleh pendeta Hindu. Tanpa menggunakan obat obatan apapun pendeta akan mengukir gigi para pemuda yang akan dewasa tujuan ritual ini adalah untuk mengusir roh jahat membawa ketamakan, syahwat, amarah, kecemburuan, dan keadaan tidak sadar. Setelahnya, mereka menjadi orang dewasa siap menikah.


4. Tidur bersama dipisahkan papan

Praktik pacaran umum barat laut negara Eropa dan Amerika kolonial yakni pasangan remaja tidur bersama seranjang. Namun ini dilakukan dalam pengawasan orang tua sang perempuan. Meski seranjang keduanya terbungkus selimut berbeda, terkadang sebuah papan berukuran sedang. Keintiman boleh terjadi namun bukan hubungan seksual. Semacam menyentuh atau bercengkrama.


5. Mengunjungi gadis

Ada tradisi cukup unik di China dalam mencari jodoh para wanita di China aken berkerumun dengan membuat lingkaran sambil memutari api ungun. Lalu segerombol pria berjaket merah akan mendatangi para wanita.

Nah proses saling menyukai mulai terjadi disini jika siwanita menyukai salah satu pria yang datang tadi maka wanita akan memberiksan sebuah barang kepada si pria lalau pria akan mengajak duduk wanita tadi dengan memberikan jaket merah miliknya disinilah kata cinta terucap dari pria untuk melamar wanita.



Baca Selengkapnya - Tradisi Unik Mencari Jodoh di Dunia

Sunday, April 7, 2013

Jadilah Pemimpin berwatak Semar

“ Ada kalanya kita harus mengalah walaupun itu pahit,tetapi ada juga saatnya kita tidak boleh mengalah dan menyerah, kalau memang itu adalah perjuangan untuk membela kebenaran bagi kaum yang lemah “

MutiaraIndonesia.com - Ucapan itu selalu teringat di benak saya,kalimat tersebut adalah ucapan dari Cak Nun ( Emha Ainun Najib ) pada acara Do’a bersama untuk Indonesia di Alun-alun Kabupaten Jombang – Jawa Timur tahun 1997 akhir,tanggalnya saya sudah lupa ( baca saja: sekarang sudah pikun ).

Saat itu Negara kita sedang terjadi kemelut luar biasa sekali,yang di awali mulai tahun 1997 mei.Yang mana Ekonomi dan Moral betul-betul seperti tidak di miliki lagi pada penghuni negeri ini.Kepercayaan kepada pemerintahan hanya sebatas ujung kuku pada saat itu.Kerusuhan yang menjurus tindakan Anarkis banyak terjadi di mana-mana,dan sebagai basis terbesar Ibukota tercinta Jakarta.

Dan sepertinya pada saat itu yang berpredikat penegak keamanan Negarapun seperti tidak bisa mengendalikan keadaan,Situasi semakin Ricuh dan memanas,akibatnya justru terjadi perlakuan sebaliknya.Tuntutan dari rekan Mahasiswa demi membela Rakyat kecil malah menjadi sasaran timah panas yang berujung jatuhnya Korban di pihak Mahasiswa.Sungguh,Indonesia saat itu seperti segumpal bola kapas yang tertiup angin.Tidak ada kata saling percaya antar pejabat Negara,malah saling curiga yang berbuah petaka.

Tuhan itu Maha Adil,Dengan Do’a para Ulama Islam,Pemuka – pemuka dari agama Hindu,Budha,Katholik,Protestan dan kepercayaan lain membuahkan hasil.Perlahan Indonesia berangsur pulih dan tenang kembali hingga kini kita rasakan bersama.”Terima kasih Ya Allah,Engkaulah Maha pemberi sesuatu yang sepantasnya kami terima”.

Di tengah ketenangan dan kedamaian,dan di saat Rakyat mulai di libatkan dalam penyampaian aspirasinya,Justru timbul hal-hal memalukan yang di lakukan wakil kita di lembaga DPR.Sangat tidak pantas seorang wakil rakyat harus melempar kursi,memukul hanya sebab perbedaan pendapat dalam sidang.Itu adalah kejadian yang membuat malu ( “Apa kata Dunia kata Nagabonar” ).Penerapan kata DEMOKRASI akan menjadi tanda tanya bagi anak - anak yang baru masuk sekolah,Karena melihat para pelaku Demokrasinya justru tidak bisa menerapkannya dengan benar.

Mungkin ada baiknya jika para Peminpin kita itu memiliki prilaku dari salah satu sosok profil dalam Dunia pewayangan.Sosok ini dalam pewayangan bukan profil Raja atau Patih dan sebagainya,tetapi dia hanya seorang lurah yang tinggal di sebuah Desa Karang Kadempel.tetapi kata-katanya selalu menjadi panutan dari Raja-raja di golongan Pandawa.Dia adalah Semar.

Semar dalam Filosofi jawa di sebut BADRANAYA yang artinya membangun sarana dari dasarnya dan melaksankan perintah Allah untuk kesejahteraan Manusia. Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. artinnya : “Sebagai pribadi tokoh semar sebagai simbul Sang Maha Tumggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah secara total ,sekaligus simbol keilmuan yang netral tetapi simpatik”. Menjadi pemimpin seharusnya tidak melihat suatu usulan itu datangnya dari pihak mana,melainkan bagaimana mempertimbangkan dan menjalankannya supaya masyarakat bisa lebih baik ke masa depan.

Rambutnya yang Kuncung mempunyai arti,” Akuning sang Kuncung “ sebagai kepribadian pelayan.Yang melayani umat ,tanpa meminta pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi.Menjadi pemimpin berarti harus siap melayani masyarakat dengan melaksanakannya secara benar demi kepentingan umum,bukan untuk keuntungan pribadi.

Cara berjalannya selalu menghadap ke atas ini artinya “memberikan teladan agar selalu memandang keatas kepada (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat”. Corak kain Parangkusumo yang di pakai adalah perwujudan Dewonggowantah ( penuntun manusia) agar Memayu hayuning bawono menciptakan keadilan dan kebenaran di bumi ini.Dengan menjadi seorang peminpin yang bisa dijadikan tauladan,harus bisa selalu memberikan perlindungan kepada masyarakat.jangn malah menyulitkannya.

Semar berkuncung seperti anak-anak,namun juga berwajah sangat tua.menjadi pemimpin harus bisa melayani semua golongan, baik itu dari golongan bawah atau golongan atas.jangan hanya kalau ada uang mau melayani.

Semar tertawannya selalu diakhiri dengan nada tangisan,Ini merupakan contoh bahwa pemimpin harus ikut merasakan penderitaan kaum miskin.

Semar berwajah menangis namun mulutnya tertawa,Pemimpin harus bisa memberikan rasa ketenangan kepada rakyatnya yang sedang di landa bencana.dengan memberikan langkah yang baik dan tepat bagi rakyat yang sedang terkena musibah atau bencana.

Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok.Kalau sifat yang satu ini sudah banyak dimiliki oleh pimpinan kita,walaupun sifatnya musiman,istilahnya pas dekat pemilu saja pemimpin mau berbaur dengan masyarakat kecil.

Kebudayaan kita sebenarnya telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Isalam di tanah Jawa. Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.

Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya “merdekanya jiwa dan raga“, maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kepemimpinan bisa sempurna tak ternodai oleh dosa,dengan mengatakan yang salah tetap salah tanpa menyemukan dan menyembunyikan kesalahan atau bakan menutupinya.
Baca Selengkapnya - Jadilah Pemimpin berwatak Semar

Wednesday, April 3, 2013

Tradisi Seksual Mencengangkan di Seluruh Dunia

MutiaraIndonesia.com - Kehidupan seksual seringkali dianggap salah satu kemewahan setiap manusia. Dan terkadang sudah menjadi kodrat jika seseorang ingin memenuhi kebutuhan itu dengan cara pernikahan.
Namun tahukah kamu, rupanya di dunia ini ada beberapa tempat yang memiliki tradisi seksual yang dianggap tak masuk akal dan mengagetkan. Saking anehnya, tradisi-tradisi itu dianggap tak masuk logika manusia. 

Tak percaya? Baca informasi berikut ini, namun tak dianjurkan untuk dicoba karena ini semua hanyalah tradisi turun-temurun di tempat tersebut. 

1. The Sambians: Suku Peminum Air Mani

Untuk menjadi seorang pria dalam suku primitif ini, bocah laki-laki akan dipisahkan dari perempuan semenjak berusia 7 tahun dan hidup dengan sesama pria selama 10 tahun. Selama masa itu, mereka akan dijauhi dari seluruh sifat perempuan termasuk meminum air mani para tetua yang dipercaya mempertahankan pertumbuhan dan kekuatan sampai akhirnya kembali ke suku. Menjijikkan? Itulah kebudayaan suku di Papua Nugini ini. 

2. The Mardudjara: Pemotongan Organ Intim

Tradisi terpenting dari suku Mardudjara Aborigin di Australia ini bisa dibilang cukup mengerikan. Mereka melakukan sunat barbar kepada organ intim para pria di sana. Di mana organ intim pria itu dipotong memanjang ke bawah sampai bagian scrotum dan darah yang menetes ke api dianggap memurnikannya. Sehingga bisa merubah saluran buang air kecil bagi para pria. Hanya pertanyaannya adalah, bukankah itu akan merusak organ intim pria secara medis? 

3. The Trobrianders: Berhubungan Seks Saat Muda

Suku primitif di pedalaman Papua Nugini ini tampaknya bisa menjadi studi kasus dalam konseksuensi revolusi seksual. Bagaimana tidak, anak-anak di sana memulai berhubungan seksual pada usia 6-8 tahun untuk wanita dan 10-12 tahun untuk pria tanpa stigma sosial. Tradisi ini sudah menjadi hal yang terjadi di suku tersebut dan tak ayal sebagai pemicu berkembangnya penyakit AIDS secara mengerikan di pedalaman Papua. 

4. Saut d'Eau: Ritual Voodoo dan Cinta

Jika kamu bepergian ke Haiti dan mengunjungi air terjun Saut d'Eau di bulan Juli, maka kamu akan melihat ritual yang cukup cabul. Kalau kamu berpikir bahwa praktisi Voodoo akan melakukan persembahan untuk dewi cinta dengan cara normal maka itu salah. Akan ada sekelompok orang telanjang yang memutar dan menggeliat di dalam lumpur yang bercampur dengan darah hewan kurban seperti kepala sapi dan kambing. 


5. The Nepalese: Berbagi Istri

Ada sebuah kasus di kawasan Himalaya, di mana hanya ada sedikit lahan yang tersedia untuk pertanian. Keluarga dengan lebih dari satu anak dihadapkan dengan pembagian tanah mereka untuk setiap anak yang akan berkeluarga. Bagaimana solusinya? Akhirnya mereka mencari satu saja istri untuk anak-anak mereka agar hidup bersama tanpa membagi tanah keluarga. Sulit untuk dibayangkan. 

6. The Wodaabee: Mencuri Istri Orang

Suku Wodaabe di Nigeria, Afrika Barat dikenal dengan para pria yang suka mencuri istri orang lain. Di mana pernikahan pertama diatur oleh orangtua ketika mereka masih bayi dan harus antara garis keturunan yang sama. Namun di festival tahunan Gerewol, pria Wodaabe memakai make up dan kostum lalu menari untuk mengesankan para wanita serta mencuri istri baru. Jika seorang pria mampu mencuri istri dan tak terdeteksi (terutama dari sang suami yang tak ingin berpisah), maka mereka diakui secara sosial dan disebut menjalani pernikahan atas dasar cinta. Gila? Iya memang. 

7. Adegan Seksual Publik

Menurut Sex and Society, ada yang menyebutkan bahwa pasang surut aliran sungai Nil di Mesir dianggap disebabkan oleh ejakulasi Atum (Dewa Penciptaan). Konsep ini memacu karena banyak raja-raja Mesir kuno yang melakukan ritual (maaf) masturbasi ke sungai Nil untuk menjamin kelimpahan air. Karena terinspirasi dengan tindakan itu, maka pria-pria Mesir kuno melakukan festival Dewa Min untuk menirunya. 

8. Tradisi Homoseksual

Kasus homoseksual yang akhir-akhir ini menjadi salah satu problematika besar dan nyata di kehidupan masyarakat modern, sepertinya sudah dikenal lebih dulu oleh bangsa Yunani kuno. Di mana mereka tidak membedakan hasrat seksual oleh jenis kelamin namun lebih menekankan pada peran yang dilakukan oleh orang per-orang di sana. Bangsa Yunani kuno percaya saat itu, bahwa mereka yang lebih aktif (tak peduli dengan siapa) akan mendapat status sosial lebih tinggi serta sebaliknya untuk yang pasif lebih rendah. 

9. Pederasty Love

Salah satu praktek seksual kontroversial lainnya di Yunani kuno adalah paiderastia. Di mana seorang laki-laki tua dan seorang pemuda remaja terlibat dalam sebuah hubungan. Yunani kuno percaya bahwa pria masih dianggap anak laki-laki sampai jenggotnya tumbuh dan mereka yang lebih tua berguna untuk mendidik, melindungi, dan mencintai yang lebih muda dengan jaminan pahala. Entah siapa yang menjaminkan pahala untuk mereka. 


10. Membayar Pernikahan Sementara

Di negara seperti Iran, ada kondisi ketika pasangan muda yang ingin berhubungan seks namun belum menikah bisa meminta pernikahan sementara. Mereka diperbolehkan membayar sejumlah uang untuk upacara singkat dengan kontrak tertulis mengenai waktu yang diinginkan tanpa bertentangan dengan hukum yang ada. Terdengar seperti kimpoi kontrak di Indonesia?



http://kask.us/g3TML
Baca Selengkapnya - Tradisi Seksual Mencengangkan di Seluruh Dunia

Kesenian Tradisional Indonesia Bernuansa Magis

KUDA LUMPING/KUDA KEPANG/JARAN KEPANG 

MutiaraIndonesia.com - Sebait potongan lagu dangdut milik Rhoma Irama di atas terinspirasi dari permainan kesenian rakyat, tari kuda lumping, yang hingga kini masih tumbuh berkembang di banyak kelompok masyarakat di nusantara. Tarian tradisional yang dimainkan secara ”tidak berpola” oleh rakyat kebanyakan tersebut telah lahir dan digemari masyarakat, khususnya di Jawa, sejak adanya kerajaan-kerajaan kuno tempo doeloe. Awalnya, menurut sejarah, seni kuda lumping lahir sebagai simbolisasi bahwa rakyat juga memiliki kemampuan (kedigdayaan) dalam menghadapi musuh ataupun melawan kekuatan elite kerajaan yang memiliki bala tentara. Di samping, juga sebagai media menghadirkan hiburan yang murah-meriah namun fenomenal kepada rakyat banyak. 

Ada satu permainan…
Permainan, unik sekali…
Orang naik kuda, tapi kuda bohong….
Namanya kuda lumping.....
Itu kuda lumping, kuda lumping, kuda lumping lompat-lompatan.... 

Kini, kesenian kuda lumping masih menjadi sebuah pertunjukan yang cukup membuat hati para penontonnya terpikat. Walaupun peninggalan budaya ini keberadaannya mulai bersaing ketat oleh masuknya budaya dan kesenian asing ke tanah air, tarian tersebut masih memperlihatkan daya tarik yang tinggi. Hingga saat ini, kita tidak tahu siapa atau kelompok masyarakat mana yang mencetuskan (menciptakan) kuda lumping pertama kali. Faktanya, kesenian kuda lumping dijumpai di banyak daerah dan masing-masing mengakui kesenian ini sebagai salah satu budaya tradisional mereka. Termasuk, disinyalir beberapa waktu lalu, diakui juga oleh pihak masyarakat Johor di Malaysia sebagai miliknya di samping Reog Ponorogo. Fenomena mewabahnya seni kuda lumping di berbagai tempat, dengan berbagai ragam dan coraknya, dapat menjadi indikator bahwa seni budaya yang terkesan penuh magis ini kembali ”naik daun” sebagai sebuah seni budaya yang patut diperhatikan sebagai kesenian asli Indonesia. 


Dipecut, Makan Beling dan Semburan Api

Entah hal apa yang bisa membuat para pemainnya ini seperti orang kesurupan. Dilihat dari cara permainannya, para penari kuda lumping seperti mempunyai kekuatan maha besar, bahkan terkesan memiliki kekuatan supranatural. Kesenian tari yang menggunakan kuda bohong-bohongan terbuat dari anyaman bambu serta diiringi oleh musik gamelan seperti; gong, kenong, kendang dan slompret ini, ternyata mampu membuat para penonton terkesima oleh setiap atraksi-atraksi penunggan (penari) kuda lumping. Hebatnya, penari kuda lumping tradisional yang asli umumnya diperankan oleh anak putri yang berpakaian lelaki bak prajurit kerajaan. Saat ini, pemain kuda lumping lebih banyak dilakoni oleh anak lelaki.

Bunyi sebuah pecutan (cambuk) besar yang sengaja dikenakan para pemain kesenian ini, menjadi awal permainan dan masuknya kekuatan mistis yang bisa menghilangkan kesadaran si-pemain. Dengan menaiki kuda dari anyaman bambu tersebut, penunggan kuda yang pergelangan kakinya diberi kerincingan ini pun mulai berjingkrak-jingkrak, melompat-lompat hingga berguling-guling di tanah. Selain melompat-lompat, penari kuda lumping pun melakukan atraksi lainnya, seperti memakan beling dan mengupas sabut kelapa dengan giginya. Beling (kaca) yang dimakan adalah bohlam lampu yang biasa sebagai penerang rumah kita. Lahapnya ia memakan beling seperti layaknya orang kelaparan, tidak meringis kesakitan dan tidak ada darah pada saat ia menyantap beling-beling tersebut. 

Jika dilihat dari keseluruhan permainan kuda lumping, bunyi pecutan yang tiada henti mendominasi rangkaian atraksi yang ditampilkan. Agaknya, setiap pecutan yang dilakukan oleh sipenunggang terhadap dirinya sendiri, yang mengenai kaki atau bagian tubuhnya yang lain, akan memberikan efek magis. Artinya, ketika lecutan anyaman rotan panjang diayunkan dan mengenai kaki dan tubuhnya, si penari kuda lumping akan merasa semakin kuat, semakin perkasa, semakin digdaya. Umumnya, dalam kondisi itu, ia kan semakin liar dan kuasa melakukan hal-hal muskil dan tidak masuk diakal sehat manusia normal.

Semarak dan kemeriahan permainan kuda lumping menjadi lebih lengkap dengan ditampilkannya atraksi semburan api. Semburan api yang keluar dari mulut para pemain lainnya, diawali dengan menampung bensin di dalam mulut mereka lalu disemburkan pada sebuah api yang menyala pada setangkai besi kecil yang ujungnya dibuat sedemikian rupa agar api tidak mati sebelum dan sesudah bensin itu disemburkan dari mulutnya. Pada permainan kuda lumping, makna lain yang terkandung adalah warna. Adapun warna yang sangat dominan pada permaian ini yaitu; merah, putih dan hitam. Warna merah melambangkan sebuah keberanian serta semangat. Warna putih melambangkan kesucian yang ada didalam hati juga pikiran yang dapat mereflesikan semua panca indera sehingga dapat dijadikan sebagai panutan warna hitam. 

Sebagai sebuah atraksi penuh mistis dan berbahaya, tarian kuda lumping dilakukan di bawah pengawasan seorang ”pimpinan supranatural”. Biasanya, pimpinan ini adalah seorang yang memiliki ilmu ghaib yang tinggi yang dapat mengembalikan sang penari kembali ke kesadaran seperti sedia kala. Dia juga bertanggung-jawab terhadap jalannya atraksi, serta menyembuhkan sakit yang dialami oleh pemain kuda lumping jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan dan menimbulkan sakit atau luka pada si penari. Oleh karena itu, walaupun dianggap sebagai permainan rakyat, kuda lumping tidak dapat dimainkan oleh sembarang orang, tetapi harus di bawah petunjuk dan pengawasan sang pimpinannya.

Perlu Terus Dipelihara dan Dikembangkan

Secara garis besar, begitu banyak kesenian serta kebudayaan yang ada di Indonesia diwariskan secara turun-menurun dari nenek moyang bangsa Indonesia hingga ke generasi saat ini. Sekarang, kita sebagai penerus bangsa merupakan pewaris dari seni budaya tradisional yang sudah semestinya menjaga dan memeliharanya dengan baik. Tugas kita adalah mempertahankan dan mengembangkannya, agar dari hari ke hari tidak pupus dan hilang dari khasanah berkesenian masyarakat kita.

Satu hal yang harus kita waspadai bahwa Indonesia masih terus dijajah hingga sekarang dengan masuknya kebudayaan asing yang mencoba menyingkirkan kebudayaan-kebudayaan lokal. Oleh karena itu, kita sebagai generasi penerus bangsa bangkitlah bersama untuk mengembalikan kembali kebudayaan yang sejak dahulu ada dan jangan sampai punah ditelan zaman modern ini. Untuk itu, kepada Pemerintah dan masyarakat diharapkan agar secara terus-menerus menelurusi kembali kebudayaan apa yang hingga saat ini hampir tidak terdengar lagi, untuk kemudian dikembangkan dan dilestarikan kembali nilai-nilai kebudayaan Indonesia. 

SEJARAH SINGKAT KUDA LUMPING

Kuda lumping juga disebut jaran kepang atau jathilan adalah tarian tradisional Jawa menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda. Tarian ini menggunakan kuda yang terbuat dari bambu yang di anyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda. Anyaman kuda ini dihias dengan cat dan kain beraneka warna. Tarian kuda lumping biasanya hanya menampilkan adegan prajurit berkuda, akan tetapi beberapa penampilan kuda lumping juga menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, seperti atraksi memakan beling dan kekebalan tubuh terhadap deraan pecut. Jaran Kepang merupakan bagian dari pagelaran tari reog. Meskipun tarian ini berasal dari Jawa, Indonesia, tarian ini juga diwariskan oleh kaum Jawa yang menetap di Sumatera Utara dan di beberapa daerah di luar Indonesia seperti di Malaysia.

Kuda lumping adalah seni tari yang dimainkan dengan properti berupa kuda tiruan, yang terbuat dari anyaman bambu atau kepang. Tidak satupun catatan sejarah mampu menjelaskan asal mula tarian ini, hanya riwayat verbal yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. 

Sejarah

Konon, tari kuda lumping merupakan bentuk apresiasi dan dukungan rakyat jelata terhadap pasukan berkuda Pangeran Diponegoro dalam menghadapi penjajah Belanda. Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa tari kuda lumping menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga, melawan penjajah Belanda. Versi lain menyebutkan bahwa, tarian ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram, untuk menghadapi pasukan Belanda.
Terlepas dari asal usul dan nilai historisnya, tari kuda lumping merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan.

Seringkali dalam pertunjukan tari kuda lumping, juga menampilkan atraksi yang mempertontonkan kekuatan supranatural berbau magis, seperti atraksi mengunyah kaca, menyayat lengan dengan golok, membakar diri, berjalan di atas pecahan kaca, dan lain-lain. Mungkin, atraksi ini merefleksikan kekuatan supranatural yang pada zaman dahulu berkembang di lingkungan Kerajaan Jawa, dan merupakan aspek non militer yang dipergunakan untuk melawan pasukan Belanda. 

Variasi Lokal

Di Jawa Timur, seni ini akrab dengan masyarakat di beberapa daerah, seperti Malang, Nganjuk, Tulungagung, dan daerah-daerah lainnya. Tari ini biasanya ditampilkan pada event-event tertentu, seperti menyambut tamu kehormatan, dan sebagai ucapan syukur, atas hajat yang dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.

Dalam pementasanya, tidak diperlukan suatu koreografi khusus, serta perlengkapan peralatan gamelan seperti halnya Karawitan. Gamelan untuk mengiringi tari kuda lumping cukup sederhana, hanya terdiri dari Kendang, Kenong, Gong, dan Slompret, yaitu seruling dengan bunyi melengking. Sajak-sajak yang dibawakan dalam mengiringi tarian, biasanya berisikan himbauan agar manusia senantiasa melakukan perbuatan baik dan selalu ingat pada Sang Pencipta.

Selain mengandung unsur hiburan dan religi, kesenian tradisional kuda lumping ini seringkali juga mengandung unsur ritual. Karena sebelum pagelaran dimulai, biasanya seorang pawang hujan akan melakukan ritual, untuk mempertahankan cuaca agar tetap cerah mengingat pertunjukan biasanya dilakukan di lapangan terbuka. 

Pagelaran Tari Kuda Lumping

Dalam setiap pagelarannya, tari kuda lumping ini menghadirkan 4 fragmen tarian yaitu 2 kali tari Buto Lawas, tari Senterewe, dan tari Begon Putri.
Pada fragmen Buto Lawas, biasanya ditarikan oleh para pria saja dan terdiri dari 4 sampai 6 orang penari. Beberapa penari muda menunggangi kuda anyaman bambu dan menari mengikuti alunan musik. Pada bagian inilah, para penari Buto Lawas dapat mengalami kesurupan atau kerasukan roh halus. Para penonton pun tidak luput dari fenomena kerasukan ini. Banyak warga sekitar yang menyaksikan pagelaran menjadi kesurupan dan ikut menari bersama para penari. Dalam keadaan tidak sadar, mereka terus menari dengan gerakan enerjik dan terlihat kompak dengan para penari lainnya.

Untuk memulihkan kesadaran para penari dan penonton yang kerasukan, dalam setiap pagelaran selalu hadir para datuk, yaitu orang yang memiliki kemampuan supranatural yang kehadirannya dapat dikenali melalui baju serba hitam yang dikenakannya. Para datuk ini akan memberikan penawar hingga kesadaran para penari maupun penonton kembali pulih.

Pada fragmen selanjutnya, penari pria dan wanita bergabung membawakan tari senterewe.
Pada fragmen terakhir, dengan gerakan-gerakan yang lebih santai, enam orang wanita membawakan tari Begon Putri, yang merupakan tarian penutup dari seluruh rangkaian atraksi tari kuda lumping. 



http://kask.us/gWfeG
Baca Selengkapnya - Kesenian Tradisional Indonesia Bernuansa Magis

Meriam Si Jagur yang Unik

MutiaraIndonesia.com - Si Jagur - Negara kita, Indonesia, bukan cuma kaya akan hasil alam, kesenian, dan budaya, tetapi juga peninggalan sejarah yang tak ternilai harganya. Salah satu peninggalan sejarah yang bernilai adalah Meriam Si Jagur yang sekarang ada di Museum Sejarah Jakarta. 

Senjata Andalan Portugis 

Usia Meriam Si Jagur sudah sangat tua. Meriam ini dibuat di Makau pada abad ke-16 oleh orang Purtugis bernama N.T. Bocarro. Kemudian meriam itu digunakan oleh Portugis sebagai senjata perangnya di sebuah benteng di Malaka (seakrang sebuah daerah di Pulau Sumatra dekat semenanjung Malaysia) untuk melawan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). VOC adalah Perserikatan Perusahaan Hindia Timur atau Perusahaan Hindia Timur Belanda. VOC didirikan pada tanggal 20 Maret 1602, dan menjadi pemegang kekuasaan jajahan di Indonesia sampai runtuhnya pada tahun 1799. Kembali ke soal Si Jagur. Setelah Malaka jatuh ke tangan VOC Belanda dan Portugis kalah perang pada tahun 1641, meriam ini diboyong ke Batavia (sekarang Jakarta) oleh VOC. Kata Pak Kasirun yang bekerja sebagai Staf Koleksi Museum Sejarah Jakarta, tempat di mana sekarang meriam itu ditaruh, Si Jagur adalah peralatan perang yang dahsyat pada masanya. Bisa kamu bayangkan betapa dahsyatnya meriam itu. Mungkin kalau diibaratkan, meriam itu seperti seorang manusia yang berpangkat Jenderal. Benda bersejarah ini jadi andalan untuk merubuhkan pertahanan musuh. Keren ya? 

Berpindah-pindah Tempat 

Saat di Batavia (Jakarta) meriam ini beberapa kali berpindah-pindah tempat. Pak Kasirun bilang, pertama kali berada di sini, meriam ini diletakkan di Jembatan Kota Intan. Jembatan ini sendiri merupakan peninggalan Belanda yang dibangun pada tahun 1628, dan sekarang menjadi benda cagar budaya yang dilindungi pemerintah kita. Setelah Indonesia merdeka, dari Jembatan Kota Intan, meriam ini dipindahkan lagi ke Museum Nasional. Lalu pada tahun 1968, Si Jagur dipindahkan lagi ke Museum Wayang, dekat Museum Sejarah Jakarta yang saat itu belum difungsikan sebagai sebuah museum. Setelah Museum Sejarah Jakarta diresmikan, meriam ini dipindahkan ke Taman Fatahillah, atau di halaman depan Museum SeJarah Jakarta. Baru pada tahun 2002, meriam bernilai ini diletakkan di halaman belakang Museum Sejarah Jakarta sampai sekarang.

Bentuknya Unik 

Meriam peninggalan Portugis ini berbahan dasar perunggu mempunyai berat 3, 5 ton, dan panjang 3, 81 cm. Yang menarik, konon meriam ini merupakan hasil leburan dari 16 meriam kecil. Ada yang unik kalau kamu perhatikan bentuk meriam ini. Uniknya di mana? Coba kamu perhatikan bagian punggung atau belakang meriam, di sana kamu akan menjumpai sebuah bentuk tangan kanan menggenggam dengan ibu jari terjepit di antara jari telunjuk dan jari tengah. Bentuk ini mempunyai makna yang tidak sembarangan lho. Kata Pak Kasirun, ini merupakan simbol dari kesuburan, kejayaan, dan kekuatan. “Kalau orang berbicara hebat cuma dengan mengacungkan jempol itu sudah biasa. Tetapi kalau menggenggam tangan dengan jempol yang terjepit itu artinya luar baisa,” Katanya. Berarti simbol ini melambangkan sebuah keberanian yang luar biasa. Konon katanya, di samping peralatan perang yang luar baisa, meriam ini juga mempunyai kekuatan mistis. Kekuatan mistis adalah kekuatan di luar panca indera kita dan tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat. Pak Kasirun bilang, dulu banyak orang yang “meminta” pertolongan ke meriam ini. Tapi, sekarang seiring perkembangan zaman, benda itu tidak lagi dijadikan benda mistis. 

Selain bentuk unik tadi, kalau kamu perhatikan di bagian punggungnya terdapat sebuah tulisan bahasa Latin,”EX ME IPSA RENATA SUM”. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, artinya “Dari Diriku Sendiri Aku Dilahirkan Lagi.” Nah, dari sebuah meriam saja jika kamu pintar menghayatinya, kamu bisa belajar soal makna keberanian orang-orang zaman dulu. Belum lagi bentuknya dan hasil pengerjaannya yang unik. Hal itu berarti bahwa orang-orang zaman dahulu tidak kalah hebatnya dalam menghasilkan sebuah benda bernilai. Sekarang, meriam ini merupakan benda yang tidak ternilai harganya dan menjadi warisan sejarah bangsa kita. Meskipun meriam ini tidak dibuat oleh bangsa kita, tapi kita wajib menjaganya ya. Kalau kamu penasaran, kamu boleh mengunjungi Si Jagur di Museum Sejarah Jakarta, yang terletak di Jalan Fatahillah No. 1 Jakarta Barat.




http://kask.us/gXgwG
Baca Selengkapnya - Meriam Si Jagur yang Unik

Kapal Layar Unik Pinisi

MutiaraIndonesia.com - Pinisi adalah kapal layar tradisional khas asal Indonesia, yang berasal dari Suku Bugis dan Suku Makassar di Sulawesi Selatan. Kapal ini umumnya memiliki dua tiang layar utama dan tujuh buah layar, yaitu tiga di ujung depan, dua di depan, dan dua di belakang; umumnya digunakan untuk pengangkutan barang antarpulau. Pinisi adalah sebuah kapal layar yang menggunakan jenis layar sekunar dengan dua tiang dengan tujuh helai layar yang mempunyai makna bahwa nenek moyang bangsa Indonesia mampu mengharungi tujuh samudera besar di dunia 

Kapal kayu Pinisi telah digunakan di Indonesia sejak beberapa abad yang lalu, diperkirakan[3] kapal pinisi sudah ada sebelum tahun 1500an. Menurut[4] naskah Lontarak I Babad La Lagaligo pada abad ke 14, Pinisi pertama sekali dibuat oleh Sawerigading, Putera Mahkota Kerajaan Luwu untuk berlayar menuju negeri Tiongkok hendak meminang Putri Tiongkok yang bernama We Cudai.
Sawerigading berhasil ke negeri Tiongkok dan memperisteri Puteri We Cudai. Setelah beberapa lama tinggal di negeri Tiongkok, Sawerigading kembali kekampung halamannya dengan menggunakan Pinisinya ke Luwu. Menjelang masuk perairan Luwu kapal diterjang gelombang besar dan Pinisi terbelah tiga yang terdampar di desa Ara, Tanah Beru dan Lemo-lemo. Masyarakat ketiga desa tersebut kemudian merakit pecahan kapal tersebut menjadi perahu yang kemudian dinamakan Pinisi. 

Ritual pembangunan Pinisi

Pembuatan Perahu Pinisi cukup unik, karena proses pembuatannya memadukan keterampilan teknis dengan kekuatan magis. Tahap pertama dimulai dengan penentuan hari baik untuk mencari kayu (bahan baku). Hari baik untuk mencari kayu biasanya jatuh pada hari ke-5 dan ke-7 pada bulan yang sedang berjalan. Angka 5 menyimbolkan naparilimai dalle‘na, yang berarti rezeki sudah di tangan, sedangkan angka 7 menyimbolkan natujuangngi dalle‘na, yang berarti selalu mendapat rezeki. Tahap selanjutnya adalah menebang, mengeringkan dan memotong kayu. Kemudian kayu atau bahan baku tersebut dirakit menjadi sebuah perahu dengan memasang lunas, papan, mendempulnya, dan memasang tiang layar. Tahap terakhir adalah peluncuran perahu ke laut.
Tiap-tiap tahap tersebut selalu diadakan upacara-upacara adat tertentu. Sebelum perahu Pinisi diluncurkan ke laut, terlebih dahulu dilaksanakan upacara maccera lopi (mensucikan perahu) yang ditandai dengan pemyembelihan binatang. Jika Perahu Pinisi itu berbobot kurang dari 100 ton, maka binatang yang disembelih adalah seekor kambing, dan jika bobotnya lebih dari 100 ton, maka binatang yang disembelih adalah seekor sapi.
Pada saat peletakan lunas, juga harus disertai prosesi khusus. Saat dilakukan pemotongan, lunas diletakkan menghadap Timur Laut. Balok lunas bagian depan merupakan simbol lelaki. Sedang balok lunas bagian belakang diartikan sebagai simbol wanita. Usai dimantrai, bagian yang akan dipotong ditandai dengan pahat. Pemotongan yang dilakukan dengan gergaji harus dilakukan sekaligus tanpa boleh berhenti. Itu sebabnya untuk melakukan pemotongan harus dikerjakan oleh orang yang bertenaga kuat. Demikian selanjutnya setiap tahapan selalu melalui ritual tertentu. 


Pelabuhan Pinisi di Bulukumba 

DI ujung selatan semenanjung Sulawesi Selatan, sekitar 153 kilometer dari Kota Makassar, terletak sebuah kabupaten bernama Bulukumba, yang menyimpan keindahan tersembunyi di pantainya yang masih asli dengan taman laut bawah air dan juga budaya maritim yang unik. Kabupaten ini dikenal penduduk lokal dengan nama Butta Panrita Lopi atau Tanah dari Kapal Layar Pinisi.

Bulukumba mendapat julukan tersebut karena tempat ini merupakan tempat lahirnya kapal pinisi yang terkenal. kapal layar Pinisi telah dibangun di sini sejak abad ke 14. Kapal ini sebagian besar dibuat di daerah yang disebut Tanah Beru, 176 kilometer dari Kota Makassar. 

Di Tanah Beru, Anda akan melihat puluhan dermaga kering di mana Kapal Layar Pinisi berada dalam berbagai tahap konstruksi. Kerajinan tangan khas Bugis yang terbentuk dalam Kapal Pinisi ini menjadi ikon pelaut Indonesia. 

Setelah melihat bagaimana cara membuat Kapal Pinisi, manjakan diri Anda dengan beristirahat di bagian selatan Bulukumba, tepatnya di Tanjung Bira. Tanjung Bira merupakan pantai berpasir putih yang indah dan luas, tempat yang pas untuk menyaksikan pemandangan matahari terbenam. Tanjung Bira juga tempat yang cocok untuk snorkeling, karena terumbu karang dan ramainya ikan-ikan tropis yang indah di bawah lautnya. 

Bulukumba didiami etnis khusus yang disebut Kajang. Etnis ini selama berabad-abad tinggal d daerah pedalaman yang disebut Tana Toa, yang masih mempraktekkan ajaran dan tradisi kuno dalam kesehariannya. Mereka hidup dalam kesederhanaan, di rumah tanpa furnitur, listrik maupun peralatan modern lainnya. Untuk mencapai Bulukumba, dapat menggunakan bis dari terminal Malengkeri di Makassar selama kurang lebih dua hingga tiga jam. 




http://kask.us/gW5hF
Baca Selengkapnya - Kapal Layar Unik Pinisi

Thursday, March 28, 2013

Mengenal Tokoh Pewayangan Sengkuni

Sangkuni, atau yang dalam ejaan Sanskerta disebut Shakuni (: शकुनि ; śakuni) atau Saubala adalah seorang tokoh antagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia merupakan paman para Korawa dari pihak ibu. Sangkuni terkenal sebagai tokoh licik yang selalu menghasut para Korawa agar memusuhi Pandawa. Antara lain, ia berhasil merebut Kerajaan Indraprastha dari tangan para Pandawa melalui sebuah permainan dadu. 

Dalam pewayangan Jawa, Sangkuni sering dieja dengan nama Sengkuni. ketika para Korawa berkuasa di Kerajaan Hastina, ia diangkat sebagai patih. Dalam pewayangan Sunda, ia juga dikenal dengan nama Sangkuning. 


Asal-Usul Versi Mahabharata 

Menurut versi Mahabharata, Sangkuni berasal dari Kerajaan Gandhara. Ayahnya bernama Suwala. Pada suatu hari adik perempuannya yang bernama Gandari dilamar untuk dijadikan sebagai istri Dretarastra, seorang pangeran dari Hastinapura yang menderita tunanetra. Sangkuni marah atas keputusan ayahnya yang menerima lamaran tersebut. Menurutnya, Gandari seharusnya menjadi istri Pandu, adik Dretarastra. Namun karena semuanya sudah terjadi, ia pun mengikuti Gandari yang selanjutnya menetap di istana Hastinapura.
Gandari memutuskan untuk selalu menutup kedua matanya menggunakan selembar kain karena ia sangat setia kepada suaminya yang buta. Dari perkimpoian mereka lahir seratus orang Korawa, yang sejak kecil diasuh oleh Sangkuni.
Di bawah asuhan Sangkuni, para Korawa tumbuh menjadi anak-anak yang selalu diliputi rasa kebencian terhadap para Pandawa, yaitu putra-putra Pandu. Setiap hari Sangkuni selalu mengobarkan rasa permusuhan di hati para Korawa, terutama yang tertua, yaitu Duryodana.
Konon Sangkuni merupakan reinkarnasi dari Dwapara, yaitu seorang dewa yang bertugas menciptakan kekacauan di muka bumi. 


Asal-Usul Versi Pewayangan 

Dalam pewayangan, terutama di Jawa, Sengkuni bukan kakak dari Dewi Gendari, melainkan adiknya. Sementara itu Gandara versi pewayangan bukan nama sebuah kerajaan, melainkan nama kakak tertua mereka. Sengkuni sendiri dikisahkan memiliki nama asli Harya Suman.
Pada mulanya raja Kerajaan Plasajenar bernama Suwala. Setelah meninggal, ia digantikan oleh putra sulungnya yang bernama Gandara. Pada suatu hari Gandara ditemani kedua adiknya, yaitu Gendari dan Suman, berangkat menuju Kerajaan Mandura untuk mengikuti sayembara memperebutkan Dewi Kunti, putri negeri tersebut.
Di tengah jalan, rombongan Gandara berpapasan dengan Pandu yang sedang dalam perjalanan pulang menuju Kerajaan Hastina setelah memenangkan sayembara Kunti. Pertempuran pun terjadi. Gandara akhirnya tewas di tangan Pandu. Pandu kemudian membawa serta Gendari dan Suman menuju Hastina.
Sesampainya di Hastina, Gendari diminta oleh kakak Pandu yang bernama Drestarastra untuk dijadikan istri. Gendari sangat marah karena ia sebenarnya ingin menjadi istri Pandu. Suman pun berjanji akan selalu membantu kakaknya itu melampiaskan sakit hatinya. Ia bertekad akan menciptakan permusuhan di antara para Kurawa, anak-anak Drestarastra, melawan para Pandawa, anak-anak Pandu. 


Asal-Usul Nama Sangkuni 

Menurut versi pewayangan Jawa, pada mulanya Harya Suman berwajah tampan. Ia mulai menggunakan nama Sengkuni semenjak wujudnya berubah menjadi buruk akibat dihajar oleh Patih Gandamana.
Gandamana adalah pangeran dari Kerajaan Pancala yang memilih mengabdi sebagai patih di Kerajaan Hastina pada masa pemerintahan Pandu. Suman yang sangat berambisi merebut jabatan patih menggunakan cara-cara licik untuk menyingkirkan Gandamana.
Pada suatu hari Suman berhasil mengadu domba antara Pandu dengan muridnya yang berwujud raja raksasa bernama Prabu Tremboko. Maka terciptalah ketegangan di antara Kerajaan Hastina dan Kerajaan Pringgadani. Pandu pun mengirim Gandamana sebagai duta perdamaian. Di tengah jalan, Suman menjebak Gandamana sehingga jatuh ke dalam perangkapnya.
Suman kemudian kembali ke Hastina untuk melapor kepada Pandu bahwa Gandamana telah berkhianat dan memihak musuh. Pandu yang saat itu sedang labil segera memutuskan untuk mengangkat Suman sebagai patih baru. Tiba-tiba Gandamana yang ternyata masih hidup muncul dan menyeret Suman. Suman pun dihajar habis-habisan sehingga wujudnya yang tampan berubah menjadi jelek.
Sejak saat itu, Suman pun terkenal dengan sebutan Sengkuni, berasal dari kata saka dan uni, yang bermakna "dari ucapan". Artinya, ia menderita cacad buruk rupa adalah karena hasil ucapannya sendiri. 


Peristiwa Minyak Tala 

Versi pewayangan selanjutnya mengisahkan, setelah Pandu meninggal dunia, pusakanya yang bernama Minyak Tala dititipkan kepada Drestarastra supaya kelak diserahkan kepada para Pandawa jika kelak mereka dewasa. Minyak Tala sendiri merupakan pusaka pemberian dewata sebagai hadiah karena Pandu pernah menumpas musuh kahyangan bernama Nagapaya.
Beberapa tahun kemudian, terjadi perebutan antara para Pandawa melawan para Kurawa yang ternyata juga menginginkan Minyak Tala. Dretarastra memutuskan untuk melemparkan minyak tersebut beserta wadahnya yang berupa cupu sejauh-jauhnya. Pandawa dan Kurawa segera berpencar untuk bersiap menangkapnya.
Namun, Sengkuni dengan licik lebih dahulu menyenggol tangan Drestarastra ketika hendak melemparkan benda tersebut. Akibatnya, sebagian Minyak Tala pun tumpah. Sengkuni segera membuka semua pakaiannya dan bergulingan di lantai untuk membasahi seluruh kulitnya dengan minyak tersebut.
Sementara itu, cupu beserta sisa Minyak Tala jatuh tercebur ke dalam sebuah sumur tua. Para Pandawa dan Kurawa tidak mampu mengambilnya. Tiba-tiba muncul seorang pendeta dekil bernama Durna yang berhasil mengambil cupu tersebut dengan mudah. Tertarik melihat kesaktiannya, para Kurawa dan Pandawa pun berguru kepada pendeta tersebut.
Sengkuni yang telah bermandikan Minyak Tala sejak saat itu mendapati seluruh kulitnya kebal terhadap segala jenis senjata. Meskipun ilmu bela dirinya rendah, namun tidak ada satu pun senjata yang mampu menembus kulitnya. 


Usaha-Usaha untuk Menyingkirkan Pandawa 

Baik dalam versi Mahabharata maupun versi pewayanagan, Sengkuni merupakan penasihat utama Duryudana, pemimpin para Kurawa. Berbagai jenis tipu muslihat dan kelicikan ia jalankan demi menyingkirkan para Pandawa.
Dalam Mahabharata bagian pertama atau Adiparwa, Sangkuni menciptakan kebakaran di Gedung Jatugreha, tempat para Pandawa bermalam di dekat Hutan Waranawata. Namun para Pandawa dan ibu mereka, yaitu Kunti berhasil meloloskan diri dari kematian. Dalam pewayangan, peristiwa ini terkenal dengan nama Bale Sigala-Gala.
Usaha Sengkuni yang paling sukses adalah merebut Kerajaan Indraprastha dari tangan para Pandawa melalui permainan dadu melawan pihak Kurawa. Kisah ini terdapat dalam Mahabharata bagian kedua, atau Sabhaparwa.
Peristiwa tersebut disebabkan oleh rasa iri hati Duryudana atas keberhasilan para Pandawa membangun Indraprastha yang jauh lebih indah daripada Hastinapura. Atas saran Sengkuni, ia pun mengundang para Pandawa untuk bermain dadu di Hastinapura. Dalam permainan itu Sengkuni bertindak sebagai pelempar dadu Kurawa. Dengan menggunakan ilmu sihirnya, ia berhasil mengalahkan para Pandawa. Sedikit demi sedikit harta benda, istana Indraprastha, bahkan kemerdekaan para Pandawa dan istri mereka, Dewi Drupadi jatuh ke tangan Duryudana. 

Mendengar Drupadi dipermalukan di depan umum, Dewi Gendari ibu para Kurawa muncul membatalkan semuanya. Para Pandawa pun pulang dan mendapatkan kemerdekaan mereka kembali. Karena kecewa, Duryudana mendesak ayahnya, Drestarastra, supaya mengizinkannya untuk menantang Pandawa sekali lagi. Drestarastra yang lemah tidak kuasa menolak keinginan anak yang sangat dimanjakannya itu.
Maka, permainan dadu yang kedua pun terjadi kembali. Untuk kedua kalinya, pihak Pandawa kalah di tangan Sengkuni. Sebagai hukuman, mereka harus menjalani hidup selama 12 tahun di dalam hutan, dan dilanjutkan dengan menyamar selama setahun di suatu negeri. Jika penyamaran mereka sampai terbongkar, mereka harus mengulangi kembali selama 12 tahun hidup di dalam hutan dan begitulah seterusnya. 


Kematian di Kurukshetra 

Setelah masa hukuman selama 13 tahun berakhir, para Pandawa kembali untuk mengambil kembali negeri mereka dari tangan Kurawa. Namun pihak Kurawa menolak mengembalikan Kerajaan Indraprastha dengan alasan penyamaran para Pandawa di Kerajaan Wirata telah terbongkar. Berbagai usaha damai diperjuangkan pihak Pandawa namun semuanya mengalami kegagalan. Perang pun menjadi pilihan selanjutnya.
Pertempuran besar di Kurukshetra antara pihak Pandawa melawan Kurawa dengan sekutu masing-masing akhirnya meletus. Perang yang juga terkenal dengan sebutan Baratayuda ini berlangsung selama 18 hari, di mana Sengkuni tewas pada hari terakhir.
Menurut versi Mahabharata bagian kedelapan atau Salyaparwa, Sengkuni tewas di tangan Sadewa, yaitu Pandawa nomor lima. Pertempuran habis-habisan antara keduanya terjadi pada hari ke-18. Sengkuni mengerahkan ilmu sihirnya sehingga tercipta banjir besar yang menyapu daratan Kurukshetra, tempat perang berlangsung.
Dengan penuh perjuangan, Sadewa akhirnya berhasil memenggal kepala Sengkuni. Riwayat tokoh licik itu pun berakhir. 

Kisah versi asli di atas sedikit berbeda dengan Kakimpoi Bharatayuddha yang ditulis pada zaman Kerajaan Kadiri tahun 1157. Menurut naskah berbahasa Jawa Kuna ini, Sengkuni bukan mati di tangan Seadewa, melainkan di tangan Bima, Pandawa nomor dua. Sengkuni dikisahkan mati remuk oleh pukulan gada Bima. Tidak hanya itu, Bima kemudian memotong-motong tubuh Sengkuni menjadi beberapa bagian.
Kisah tersebut dikembangkan lagi dalam pewayangan Jawa. Pada hari terakhir Baratayuda, Sengkuni bertempur melawan Bima. Kulitnya yang kebal karena pengaruh Minyak Tala bahkan sempat membuat Bima menjadi pusing karena tidak bisa mengalahkan Sengkuni.
Penasihat Pandawa selain Kresna, yaitu Semar muncul memberi tahu Bima bahwa kelemahan Sengkuni berada di bagian dubur, karena bagian tersebut dulunya pasti tidak terkena pengaruh Minyak Tala. Bima pun maju kembali. Sengkuni ditangkap dan disobek duburnya menggunakan Kuku Pancanaka yang tumbuh di ujung jari Bima. 

Ilmu kebal Sengkuni pun musnah. Dengan beringas, Bima menyobek dan menguliti Sengkuni tanpa ampun. Meskipun demikian, Sengkuni hanya sekarat tetapi tidak mati.
Pada sore harinya Bima berhasil mengalahkan Duryudana, raja para Kurawa. Dalam keadaan sekarat, Duryudana menyatakan bahwa dirinya bersedia mati jika ditemani pasangan hidupnya, yaitu istrinya yang bernama Dewi Banowati. Atas nasihat Kresna, Bima pun mengambil Sengkuni yang masih sekarat untuk diserahkan kepada Duryudana. Duryudana yang sudah kehilangan penglihatannya akibat luka parah segera menggigit leher Sangkuni yang dikiranya Banowati.
Akibat gigitan itu, Sengkuni pun tewas seketika, begitu pula dengan Duryudana. Ini membuktikan bahwa pasangan sejati Duryudana sesungguhnya bukan istrinya, melainkan pamannya yaitu Sengkuni yang senantiasa berjuang dengan berbagai cara untuk membahagiakan para Korawa. 





Baca Selengkapnya - Mengenal Tokoh Pewayangan Sengkuni